Biografi Ki Hajar Dewantara Sang Bapak Pendidikan Indonesia

0 230

Tut Wuri Handayani, merupakan selogan yang dijadikan logo pada dunia pendidikan di Indonesia. Selogan itu dikemukaan oleh seorang pria dari Yogyakarta yang sedari mudanya terjun di dunia pendidikan. Latar belakang keluarganya yang merupakan keturunan Bangsawan memudahkannya untuk mendapatkan pendidikan, dia patut dijuluki sebagai bapak pendidikan Indonesia dan beliau adalah Ki Hajar Dewantara. Berikut ini kita akan bahas tentang biografi ki hajar dewantara yang dikenal sebagai bapak pendidikan Indonesia.

Biografi Ki Hajar Dewantara

Berikut ini kita akan membahas lumayan lengkap tentang biografi Ki Hajar Dewantara sang bapak pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat , beliau sendiri lahir di Kota Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei 1889, Hari kelahirannya kemudian diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau sendiri terlahir dari keluarga Bangsawan, ia merupakan anak dari GPH Soerjaningrat, yang merupakan cucu dari Pakualam III.

biografi ki hajar dewantara

Latar Belakang Ki Hajar Dewantara

Latar belakang pendidikannya dimulai dari ELS yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan. Selepas dari ELS ia kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda, yang kini dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia.

Baca juga : Biografi Cut Nyak Dhien

Meskipun bersekolah di STOVIA, Ki Hadjar Dewantara tidak sampai tamat sebab ia menderita sakit ketika itu. Ki Hajar Dewantara cenderung lebih tertarik dalam dunia jurnalistik atau tulis-menulis, hal ini dibuktikan dengan bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar pada masa itu, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Gaya penulisan Ki Hadjar Dewantara pun cenderung tajam mencerminkan semangat anti kolonial. Seperti yang ia tuliskan berikut ini dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker :

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”

Tulisan tersebut kemudian menyulut kemarahan pemerintah Kolonial Hindia Belanda kala itu yang mengakibatkan Ki Hadjar Dewantara ditangkap dan kemudian ia diasingkan ke pulau Bangka dimana pengasingannya atas permintaannya sendiri. Pengasingan itu juga mendapat protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang kini ketiganya dikenal sebagai ‘Tiga Serangkai’. Ketiganya kemudian diasingkan di Belanda oleh pemerintah Kolonial.

Berdirinya organisasi Budi Utomo sebagai organisasi sosial dan politik kemudian mendorong Ki Hadjar Dewantara untuk bergabung didalamnya, Di Budi Utomo ia berperan sebagai propaganda dalam menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia. Munculnya Douwes Dekker yang kemudian mengajak Ki Hajar Dewantara untuk mendirikan organisasi yang bernama Indische Partij yang terkenal.

Pengasingannya di Belanda kemudian Ki Hajar Dewantara mulai bercita-bercita untuk memajukan kaumnya yaitu kaum pribumi. Ia berhasil mendapatkan ijazah pendidikan yang dikenal dengan nama Europeesche Akte atau Ijazah pendidikan yang bergengsi di belanda. Ijazah inilah yang membantu beliau untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang akan ia buat di Indonesia. Di Belanda pula ia memperoleh pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

ki hajar dewantara dan istrinya

Pernikahan Ki Hajar Dewantara

Pada tahun 1913, Ki Hajar Dewantara kemudian mempersunting seorang wanita keturunan bangsawan yang bernama Raden Ajeng Sutartinah yang merupakan putri paku alaman, Yogyakarta. Dari pernikahannya dengan R.A Sutartinah, Ki Hadjar Dewantara kemudian dikaruniai dua orang anak bernama Ni Sutapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram. Selama di pengasingannya, istrinya selalu mendampingi dan membantu segala kegiatan suaminya terutama dalam hal pendidikan.

Kemudian pada tahun 1919, ia kembali ke Indonesia dan langsung bergabung sebagai guru di sekolah yang didirikan oleh saudaranya. Pengalaman mengajar yang ia terima di sekolah tersebut kemudian digunakannya untuk membuat sebuah konsep baru mengenai metode pengajaran pada sekolah yang ia dirikan sendiri pada tanggal 3 Juli 1922, sekolah tersebut bernama National Onderwijs Instituut Tamansiswa yang kemudian kita kenal sebagai Taman Siswa.

Di usianya yang menanjak umur 40 tahun, tokoh yang dikenal dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat resmi mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara atau sering di lafalkan Ki Hajar Dewantara,, hal ini ia maksudkan agar ia dapat dekat dengan rakyat pribumi. Ia pun juga membuat semboyan yang terkenal yang sampai sekarang dipakai dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu :
• Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh).
• Ing madyo mangun karso, (di tengah memberi semangat).
• Tut Wuri Handayani, (di belakang memberi dorongan).

Kehidupan Ki Hajar Dewantara Setelah Kemerdakaan

Selepas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945, Ki Hajar Dewantara kemudian diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri pengajaran Indonesia yang kini dikenal dengan nama Menteri Pendidikan. Berkat jasa – jasanya, ia kemudian dianugerahi Doktor Kehormatan dari Universitas Gadjah Mada. Selain itu ia juga dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan juga sebagai Pahlawan Nasional oleh presiden Soekarno ketika itu atas jasa – jasanya dalam merintis pendidikan bangsa Indonesia. Selain itu, pemerintah juga menetapkan tanggal kelahiran beliau yakni tanggal 2 Mei diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara Wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

makam ki hajar dewantara beserta istrinya
makam ki hajar dewantara beserta istrinya

Untuk mengenang jasa – jasa beliau maka pihak penerus perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya di Yogyakarta. Di dalam musium tersebut berisikan benda – benda atau karya – karya Ki Hajar Dewantoro dan kiprahnya dalam berbangsa. Karya – karya yang di pasang diantaranya karya tulis atau konsep, risalah – risalah dan data surat menyurat semasa menjadi jurnalis, pendidik, budayawan dan seniman. Kisah hidupnya telah dibuat menjadi mikrofilm yang disimpan oleh Badan Arsip Nasional.

Baca juga : Biografi Soekarno

Diatas merupakan biografi ki hajar dewantara sang bapak Pendidikan Indonesia, dibesarkan di tengah – tengah keluarga yang merupakan keturunan bangsawan akses pendidikan mudah ditempuhnya. Berbekal ilmu pengetahuan beliau mulai terketuk hatinya untuk memperbaiki tingkat pendidikan di kaum jelata. Dengan membuka sekolah adalah langkah awal beliau mencerdaskan rakyat jelata. Jadi sangat tepat jika Ki Hajar Dewantara dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Jangan lupa untuk baca biografi tokoh Indonesia lainnya hanya di sipolos.com

You might also like More from author

Leave a Reply